Category Archives: Parenting

Gaya Mengasuh Anak

Otoriter (Killer)

Tipe orangtua ini memiliki ciri tanpa kompromi, tidak ada ruang untuk anak memberikan pendapat nya. Anak cenderung dipandu bukan didampingi. Tipe ini juga membatasi gerak anak. Mereka tidak berusaha menjelaskan pada anak mengapa hal itu baik dan hal ini buruk. Orangtua otoriter juga cenderung memberikan hukuman jika anak melakukan kesalahan, senang mengancam, hingga menakut-nakuti anak.

Baca juga : Kerja di Jerman

Tipe ini juga memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap anak. Anak diharuskan mengikuti rentetan latihan agar mendapatkan prestasi terbaik di segala bidang. Tipe otoriter juga tidak segan-segan memarahi anak di depan umum. Kontrol pada anak seluruhnya ada pada orangtua, sehingga anak tidak akan diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Tipe otoriter sangat berdampak buruk bagi anak. Sebab, apa yang anak lakukan merupakan keinginan orangtua. Anak dapat tumbuh menjadi pencemas, punya rasa percaya diri yang rendah, hingga mengalami depresi. Anak juga sulit mendapatkan teman karena bisa jadi ia dilarang untuk punya waktu bersosialisasi dengan teman-teman.

Demokratis (Gaul)

Dalam melakukan pengasuhan, tipe orangtua demokratif melakukan positive psychology. Orangtua memiliki aura dan pemikiran positif ketika melakukan pendekatan terhadap anak. Ketika anak melakukan kesalahan, bukan amarah atau hukuman yang diberikan kepadanya, namun lebih memilih mengetahui apa yang menjadi penyebab anak melakukan kesalahan.Sekecil apa pun kemampuan yang dimiliki anak akan dihargai orangtua.

Mereka juga akan membantu anak mengembangkan kemampuan tersebut. Orangtua demokratif sangat berpikir rasional dan realistis. Ia tidak senang menuntut apa yang anak tidak bisa lakukan.Aturan yang dibuat sesuai kesepakatan antara anak dengan orangtua. Orangtua demokratif selalu menghargai keputusan anak, selama hal tersebut tidak membahayakan anak tentunya. Dampak pola asuh ini tentu baik bagi anak.

Anak akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan terbiasa mengungkapkan pendapatnya. Tak hanya itu, anak juga menjadi lebih mandiri. Ia bisa mengatur serta memutuskan apa yang baik bagi dirinya. Anak juga paham hak dan kewajibannya. Orangtua tipe demokratif juga dapat membantu anak mengatasi stres. Terbiasa dengan aura positif yang diberikan orangtua akan membuat anak juga berpikir lebih positif akan sekitarnya. Bersosialisasi dan menjalin kerja sama dengan orang lain akan menjadi hal yang mudah baginya.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Waspadai Risiko Persalinan

Perdarahan, infeksi, dan hipertensi adalah risiko utama persalinan. Bagaimana mencegahnya? Ternyata, angka kematian ibu (AKI) melahirkan di Indonesia termasuk tertinggi di Asia. Tak heran bila salah satu target MDG (Tujuan Pembangunan Milenium) Indonesia adalah menekan angka kematian ibu (AKI). MDG yang disepakati tahun 2000 menargetkan penurunan AKI hingga 102 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

Nyatanya, AKI menurut Survei Demogradfi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 masih 359 per 100.000 kelahiran hidup. Mayoritas penyebab kematian ibu ialah perdarahan (37%), infeksi (22%), dan hipertensi (14%). Mengapa AKI di negeri kita tercinta ini cukup tinggi? Salah satunya lantaran pengetahuan mengenai faktor-faktor risiko tinggi masih terbilang minim. Rendahnya pengetahuan masyarakat ini menyebabkan rendahnya upaya pencegahan. Untuk itu, mari cegah kematian ibu melahirkan dengan memahami ketiga penyebab utamanya.

erdarahan dapat terjadi di masa hamil, saat persalinan, dan pascamelahirkan (dalam periode pemulihan selama 40 hari usai bersalin alias masa nifas). WASPADAI TANDA-TANDANYA: Keluarnya darah merah segar dari jalan lahir lebih dari 1.000 ml secara terus-menerus hingga menembus pakaian. Tanda lainnya, napas sesak/tersengal, pusing, mata berkunang, penglihatan kabur, rasa mau pingsan, kesemutan, telapak tangan dan kaki pucat serta dingin.

KENALI FAKTOR PEMICUNYA: • Usia Mama terlalu muda, yaitu kurang dari 20 tahun. Pada usia terlalu muda, kondisi alat kandungan belum siap sehingga rentan terjadi perdarahan. Sebaliknya, bila usia terlalu tua (lebih dari 35 tahun) juga berisiko tinggi mengalami perdarahan, apalagi bila kondisi fisiknya tak terjaga baik. • Keguguran spontan dan tak segera mendapat penanganan dari tenaga kesehatan. •

Jarak kelahiran terlalu dekat, yaitu kurang dari 2 tahun atau terlalu sering melahirkan (lebih dari tiga kali). • Kondisi kesehatan mamil, misalnya, gi]i buruk, anemia atau mengalami penyakit kronis lainnya, dan adanya masalah pembekuan darah. • Terjadi kelainan letak ariari, yaitu berada di tempat yang menutupi jalan lahir (plasenta previa). • Ari-ari lepas sebelum janin lahir (solutio placenta). Perdarahan yang terjadi sangat berbahaya, bukan hanya bagi keselamatan ibu, tetapi juga janinnya.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Cuma Mau Rasa Pedas Dan Asam Bag2

Mama yang sudah terbiasa dengan makanan pedas atau asam sebelum hamil, mungkin akan lebih tahan diban ding dengan Mama yang belum biasa. Hentikan mengonsumsi makanan tersebut, bila Mama mengalam i masalah pencernaan atau mulas. Yang terpenting, jangan mengonsumsi makanan pedas/asam di luar batas ketahanan tubuh Mama.

Selain itu, Mama disarankan minum segelas susu untuk membantu meredakan mulas atau mengonsumsi satu sendok madu untuk membantu mencegah sakit mag setelah menikmati makanan pedas. Mama juga dianjurkan mengurangi jumlah cabai yang dikonsumsi. Jika biasanya makan rujak harus de ngan 10 cabai, kurangi jadi 5. Toh, Mama tetap bisa merasakan pedas nya tanpa harus menanggung risiko sakit mag dan diare. Hal yang sama berlaku buat makanan yang rasanya asam, ya, Ma.

Cuma Mau Rasa Pedas Dan Asam

Lagi pula, makanan berasa asam yang berupa buah-buah an, mengandung beragam vitamin dan mineral yang pen ting untuk kesehat an mamil dan juga perkembangan janin. Jeruk, mangga dan stroberi, misal, banyak mengandung vitamin C dan antioksidan, sementara tomat kaya akan vitamin A dan likopen.

Baca juga : Kerja di Jerman

Bahkan, makanan berasa pedas, seperti cabai, diketahui juga kaya akan vitamin C dan me miliki efek membantu pem bakaran lemak sehingga bisa membantu mamil mencegah obesitas. Wow! Makanan berasa asam dan pedas sepertinya sudah menjadi ciri khas mamil, ya, Ma. Terutama di trimester pertama, banyak mamil memiliki keinginan kuat untuk mengonsumsi ma kanan seperti rujak atau buah mangga muda. Orang bilang, ngidam! Hal ini wajar saja.

Apalagi, makanan asam dan pedas ini bisa mengurangi intensitas mual atau morning sickness yang kerap dialami mamil pada trimester pertama. Nah, karena rasa mual berkurang, tentunya mamil jadi bisa ma kan dengan normal tanpa di seling muntah. Otomatis janin di dalam kandungan juga me rasakan manfaatnya karena mendapatkan asupan gizi dari mamanya.

Kombinasikan Makanan

Hanya saja, di balik man faatnya, tersimpan juga dam pak negatif yang tentu perlu diwaspadai. Salah satunya, makanan pedas dan asam bisa menyebabkan mulas dan refluks asam (biasa disebut sakit mag), dua masalah umum yang terjadi pada saat hamil. Selain itu, makanan pedas bisa menyebabkan diare. Diare, jika tidak segera ditangani, dapat berakibat buruk pada janin. Saat diare, mamil tak bisa mendapatkan asupan dengan baik sementara isi perutnya terus-menerus keluar.

Hal ini dikhawatirkan membuat janin tidak mendapatkan asupan nutrisi dan oksigen yang baik, sehingga perkembangannya pun tidak optimal. Diare bisa juga memicu terjadinya kontraksi sehingga rawan keguguran dan lahir prematur (pada kehamilan besar). Mamil yang lemas pun bisa mengganggu aliran darah ke janin. Jadi, meski makanan pedas dan asam aman dikonsumsi selama kehamilan, Mama sebaiknya tahu kapan harus membatasi diri. Kemampuan tiap orang dalam merasakan suatu makanan dan menahan efeknya itu berbeda-beda.

Sumber : https://ausbildung.co.id/